Kebun Teh Kaligua

Posted: 5 April 2008 in Sehat

GUMPALAN kabut tebal menyelimuti kawasan kebun Teh Kaligua. Suasana di perkebunan yang menjadi kawasan wisata agro di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes itu jadi tampak penuh kemuraman. Lihat saja, walaupun jam sudah menunjukkan pukul 08.00, hari belum terang benar. Matahari terlihat masih malu-malu unjuk diri.

Seperti biasanya, angin begitu sejuk pagi itu. Serombongan perempuan tua dan muda sudah sibuk bekerja di hamparan hijau kebun teh. Serius tapi sesekali ada keriangan ketika mereka memetiki daun teh milik PT (Persero) Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Kaligua tersebut. Sementara di jalan desa menuju arah Kretek-Paguyangan, sibuk oleh lalu lalang kendaraan bak terbuka dengan muatan sayuran seperti kubis, kentang dan caysim.

Dengan panorama serupa itu, juga kualitas kesegaran alamnya, tak keliru kalau Perkebunan Teh Kaligua bisa disepadankan dengan pesona alam pengunungan Puncak Bogor. Bahkan sebenarnya, bukan omong besar, loka atau tempat lebih komplet karena memberikan banyak pilihan untuk wisata. Sebab, terdapat beberapa situs wisata menarik yang berada di seputaran Kaligua. Sebut beberapa misalnya Gua Jepang, Tuk Benih, dan Telaga Renjeng. Lebih-lebih lagi, wisatawan yang berkunjung di tempat-tempat itu tak harus dipusingkan oleh ketiadaan fasilitas akomodasi. Sebuah vila milik perkebunan bisa dimanfaatkan oleh pengunjung yang ingin bermalam di situ.

Perlu diketahui, Perkebunan Teh Kaligua berada pada sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Lokasinya sekitar 10 kilometer dari arah kota Kecamatan Paguyangan, atau sekitar 15 kilometer dari Bumiayu. Jalannya memang berkelok-kelok, dan naik-turun. Sayangnya, jalan menuju ke desa tersebut relatif kurang bagus, karena separuhnya masih rusak berat.

Tak jauh dari lokasi tersebut, di sekitar Pandansari, terdapat sebuah tempat wisata yang tergolong langka. Yakni, sebuah telaga yang dihuni jutaan ikan lele jinak. Lokasi telaga itu berada di tengah hutan lindung dan masih berada dalam pengawasan Cagar Alam Nasional.

***

YA, berada di lokasi perkebunan sambil menyaksikan aktivitas para pemetik teh yang sangat mirip ”kambing” lapar memangsa dedaunan, itu sungguh pemandangan yang mengasyikkan. Lihat saja, bagaimana tangan mereka begitu cekatan memetiki daun teh. Daun teh itu dipetik bagian pucuknya, kemudian ditaruh di keranjang yang digendong pekerja.

Dengan cara bekerja seperti itu, layak kalau dalam sehari mereka bisa mengumpulkan berkilo-kilo daun teh. Nurhayati (35), pekerja asal Desa Pandansari mengaku, setiap hari mampu memetik 15 hingga 20 kg daun teh. Teh hasil petikan dia selanjutnya disetorkan ke perkebunan. Berapa upahnya? Satu kilogram petikan teh berharga Rp 270.

”Dua tahun saya telah bekerja di perkebunan. Hasilnya? Yah, lumayanlah untuk biaya sekolah anak-anak,” ujarnya.

Administratur PTPN IX Kaligua Agus Hargianto SP mengakui, kawasan perkebunan teh di wilayahnya memang sangat potensial sebagai sarana wisata agro. Wisata seperti itu bakal mampu meningkatkan pendapatan nonmigas. Apalagi ciri wisata alam seperti di Kaligua itu boleh dibilang tak pernah membosankan.

”Semakin lama bukannya semakin membosankan, melainkan bertambah menarik,” ujar Agus mantap.

Kawasan perkebunan teh ini, selain menarik untuk sarana wisata keluarga, juga sangat cocok untuk refreshing bagi orang kota yang setiap hari disibukkan oleh rutinitas kerja. Untuk melayani wisatawan, pihak perkebunan menyediakan fasilitas home stay (penginapan) yang cukup representatif. Kata Agus, ada 18 kamar yang bisa disewa di wisma Dahlia, Anggrek dan Kenanga.

”Kalau mau, pengunjung juga bisa memesan layanan teh dan katering ke pihak perkebunan,” ujar petugas yang berjaga di salah satu wisma.

Keelokan panorama Pandansari itu bukan semata bualan. Seorang guru SMA dari Kota Amrhesp di Amerika Serikat yang bernama Prof Vivian, pernah memuji keelokan panorama Pandansari. Ketika itu, dia datang diantar Kasubdin SMP/SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Brebes, Dr H Munthoha Nasucha. Begitu sampai di lokasi, berkali-kali, Vivian berkata, ”Beatiful, Beatiful Pandansari….”

Sayang sekali, meskipun lokasi perkebunan dan tawaran wisata di sekitarnya memiliki potensi luar biasa, Pemkab tampaknya belum memberikan perhatian serius terhadap wisata agro ini. Mau bukti? Lihat saja jalan menuju ke Pandansari. Rusak dan susah dilalui. Dan itu sudah bertahun-tahun begitu seolah-olah memang dibiarkan rusak.

Tahun 2006 lalu, Pemkab menyediakan dana Rp 1,7 miliar untuk perbaikan jalan. Namun sayang, pemborong yang telah diberi tanggung jawab tak bisa merampungkannya. Makanya tahun ini pun disediakan lagi anggaran untuk melanjutkan perbaikan jalan itu.

Dalam hal wisata, Pemkab pun telah melakukan beberapa upaya untuk keperluan. Misalnya, untuk memasarkan wisata agro Pandansari, Pemkab bekerja sama dengan biro perjalanan, dan Pemprov.

”Kami sudah melakukan banyak hal untuk pengembangan wisata di tempat itu,” ujar Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Brebes, Suprapto SH.

Namun Suprapto juga mengakui, hal tersebut belum dibantu dari sisi infrastruktur jalan yang memadai ke arah objek wisata itu. Walau demikian, pihaknya tak capai-capai mengenalkan objek tersebut ke masyarakat luas. Salah satunya dengan menyelenggarakan pemilihan Si Nok Si Tong di lokasi perkebunan teh tersebut.

(Wahidin Soedja/73)

Sumber:suaramerdeka.com

Komentar
  1. gina mengatakan:

    bisa infokan atau CP untuk penginapan disana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s