Cerita Lain dari Cepu

Posted: 5 April 2008 in Jalan-jalan

NAMA Cepu semakin mengglobal seiring dengan rencana eksplorasi Blok Cepu. Blok ini mencakup wilayah Cepu dan Bojonegoro dengan kandungan minyak diperkirakan mencapai jutaan barel. Ada dua operator besar yang terlibat dalam pengeksplorasian minyak ini, yakni Exxon Mobile dan Pertamina. Pihak lain yang terlibat adalah Pemprov Jatim, Pemprov Jateng, Pemkab Blora, dan Pemkab Bojonegoro dalam bentuk participacing interest.

Pengeksplorasian Blok Cepu mau tidak mau mengangkat nama kota di ujung timur wilayah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Timur ini. Hampir setiap saat nama Cepu disebut dalam berbagai media, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Sebenarnya selain minyak, Cepu juga memiliki potensi yang lain. Yakni, aset wisata yang dapat dijual, baik berupa peninggalan sejarah zaman lampau maupun panorama alam indah yang sangat menarik dikunjungi.

Salah satu peninggalan sejarah penting di wilayah tersebut Petilasan Kadipaten Jipang Panolan. Siapa yang tak pernah mendengar kisah herois sekaligus tragis Adipati Aryo Penangsang dengan tunggangan kuda saktinya, si Gagak Rimang?

Petilasan tersebut terletak di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari kota Cepu. Untuk ke sana, Anda bisa menempuhnya dengan sepeda motor atau mobil. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang.

Di tempat itu, Anda juga bisa melihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid. Ada juga makam kerabat kerajaan pada waktu itu, antara lain makam R Bagus Sumantri, R Bagus Sosrokusumo, RA Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo.

Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.

Salekun (50), juru kunci Makam Gedong Ageng, mengatakan setiap hari selalu ada pengunjung yang datang ke tempat tersebut. Tidak hanya yang berasal dari daerah sekitar, tapi juga dari luar Cepu, khususnya Solo dan Yogyakarta. Banyak pula orang dari Surabaya dan Jakarta berkunjung ke situ.

Untuk apa? Untuk berziarah? Mereka datang dengan berbagai maksud. Ada yang sekadar ingin mengunjungi dan melihat dari dekat peninggalan sejarah. Tapi tak sedikit pula yang datang dengan membawa hajat tertentu seperti keinginan sukses berusaha atau menduduki jabatan tertentu, atau mencari kesembuhan bagi anggota keluarga yang sakit. Ini soal galib kalau kita mengamati pola perziarahan masyarakat kita. Pada banyak petilasan lain di berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah, selalu saja ada tujuan “tambahan” dari sekadar kunjungan.

“Saya kerap dimintai bantuan untuk menyampaikan hajat mereka,” tutur Salekun.

Tentu saja lelaki itu sudah hafal benar dengan perilaku orang yang datang ke petilasan yang dia jaga tersebut. Dia adalah generasi ketiga trah juru kunci Makam Gedong Ageng dan telah lebih dari sebelas tahun lebih dia mengabdikan diri di situ.

Situs Ngloram

Selain Jipang Panolan, wilayah menarik lainnya adalah Desa Ngloram yang berbatasan dengan Jipang. Di sana Anda bisa menjumpai situs Ngloram. Yayasan Mahameru Blora yang bergerak dalam bidang penyisiran permukaan benda cagar budaya menyebutkan, situs Ngloram sangat mungkin merupakan bagian dari kerajaan Mataram Hindu dengan Raja terakhir Teguh Darmawangsa.

Tentu saja itu bukan kajian asal duga. Beberapa bukti ditemukan di loka tersebut. Misalnya, batu kuno untuk sedekah bumi dan pecahan keramik dari zaman Dinasti Tang.

Lokasinya yang tak begitu jauh dari Jipang amat memudahkan pengunjung yang ingin melengkapi pesiar sejarahnya di wilayah tersebut. Dari Jipang, Ngloram bisa ditempuh hanya dengan berkendaraan sekitar sepuluh menit.

Di loka Ngloram juga dapat dijumpai bekas lapangan terbang yang dulunya kerap digunakan dosen-dosen yang mengajar di Akamigas Cepu. Landasan pacunya sepanjang hampir 1 kilometer dengan lebar 30 meter. Pada November 2006 lalu, lapangan ini digunakan untuk pendaratan kapal terbang perintis dan dua helikopter yang dinaiki Wakil Presiden Yusuf Kalla dan rombongan ketika meninjau lokasi Blok Cepu.

Alam Unik

Di samping wisata budaya, Cepu juga memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik, unik, dan menawan. Jenis wisata ini banyak diminati turis domestik dan mancanegara. Wujudnya sumur minyak tua dan gas bumi yang keberadaannya tersebar di wilayah sekitar Cepu, Nglobo, Ledok, dan Wonocolo. Jumlah sumur tua yang ada mencapai 648 buah dengan 112 di antaranya masih aktif memproduksi minyak.

Perlu diketahui, sumur minyak di Cepu ini kali pertama ditemukan pada tahun 1890 oleh Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), sebuah perusahaan minyak dari Belanda, yang kemudian namanya berubah menjadi Shell. Sebagian besar sumur tua tersebut masih ditambang secara tradisional oleh masyarakat setempat. Mereka menggunakan tali dan timba yang ditarik oleh sekitar 15 orang atau memanfaatkan sapi untuk menderek.

Sumur-sumur tua itu umumnya berada di areal perbukitan dan di tengah-tengah kawasan hutan jati. Maka, perlu upaya ekstra untuk bisa melihatnya. Agak mirip sebuah petualangan kecil. Tapi itu pula asyiknya, berwisata sembari “berpetualang”. Kunjungan ke situ pun bakal sangat mengesankan.

Tak kalah menariknya dari keunikan sumur tua adalah wisata Loko Tour. Loko Tour adalah paket wisata di hutan jati wilayah KPH Cepu dengan transportasi rangkaian kereta api yang ditarik lokomotif tua buatan Berliner Maschienenbaun Jerman tahun 1928. Wisata ini berangkat dari Kantor Perhutani Sorogo menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer dengan kecepatan kereta 20 kilometer per jam. Perjalanan melintasi wilayah hutan, meliputi Ledok, Kendilan, Pasar Sore, Blungun, Nglobo, Cabuk, dan Nglebur.

Lebih menarik lagi, karena peserta tur tak semata “berselancar” di kawasan hutan di atas kereta, tapi mereka juga bisa menikmati beberapa sajian kesenian khas Blora seperti tayub atau saradan. Tak hanya itu, tambahan dalam paket turnya museum jati, memungkinkan pengunjung merasakan sebagai “orang hutan jati”, misalnya dengan ikut dalam penanaman jati, penebangan kayu, dan banyak lagi lainnya.

Hanya saja, untuk menikmati paket wisata tersebut, Anda harus rela merogoh kocek lebih. Sebab, Anda tak bisa seorang diri naik loko, tapi harus dalam rombongan dengan menyewa tiga loko yang ada. Dengan kapasitas penumpang antara 20 sampai 30 orang, pengunjung harus menyewa kereta seharga Rp 3 juta. Namun, paket wisata ini sangat menarik dan memberi kenangan tersendiri. Buktinya, paket wisata tersebut banyak diminati wisatawan mancanegara.

Sunaryo, Guru SMP N 1 Tunjungan Blora

(/73)

Sumber: suaramerdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s