Kedamaian Kampoeng Djowo Sekatul

Posted: 29 Maret 2008 in Jalan-jalan

jalan8.jpgKESUNYIAN menyergap ketika kami, rombongan Asosiasi Wisata Agro Indonesia (AWAI) Jateng tiba di Kampoeng Djowo Sekatul malam itu. Tak ada deru laju kendaraan. Pun tak ada suara klakson yang memekakkan telinga. Hanya suara jangkrik yang seakan menjadi nyanyian malam tanpa henti.

Wisata agro di kaki gunung Ungaran sebelah barat itu, memang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Lokasi ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit perjalanan dengan bus dari pertigaan Kaliwungu ke arah Boja.

Sesaat setelah pertigaan Kaliwungu, peserta mulai disuguhi dengan pemandangan hutan lindung. Pohon-pohon jati besar terlihat menjulang hingga setinggi lebih kurang 25 meter. Sementara di sekelilingnya terlihat pohon-pohon lain yang lebih pendek, namun cukup lebat.

Cerita-cerita tentang tempat itu pun bermunculan. Trenggono, staf Dinas Pariwisata Jateng yang saat itu ikut dalam perjalanan mengatakan, hutan tersebut tanah milik Keraton Yogyakarta. Konon tempat itu juga dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Sehingga tak ada yang berani mengambil kayunya, apalagi mencuri. Entah benar atau tidak, pohon-pohon besar yang ada menunjukan bahwa hutan masih cukup terjaga.

Setelah melewati hutan, bus yang kami tumpangi harus melalui jalan menanjak dan berkelak-kelok. Sesampai di mulut jembatan Kali Gading, sopir pun terpaksa menepikan kendaraan. Sebab dari arah berlawanan, datang sebuah bus mini lain yang juga akan melalui jembatan sempit tersebut.

Perjalanan pun dilanjutkan hingga pertigaan memasuki perkebunan karet di Boja. Sesampai di pertigaan Gonoharjo, kendaraan kemudian berbelok ke arah kanan, memasuki area Kampoeng Djowo Sekatul.

Untuk menuju lokasi wisata agro bernuansa tradisional Jawa itu, sebenarnya tak harus melalui Kaliwungu. Pengunjung juga dapat menjangkau tempat itu dari Kota Semarang dengan naik bus umum jurusan Gonoharjo, atau kendaraan pribadi.

Rute yang bisa ditempuh, dari Tugu Muda ke arah barat atau menuju ke arah Ngaliyan. Sesampai di pertigaan Pasar Jrakah, kendaraan berbelok ke arah Boja, melalui Bukit Semarang Baru (BSB), Pasar Mijen, Polsek Mijen, pertigaan ke arah Gunungpati, dan Terminal Cangkiran.

Dibanding jalan Kaliwungu – Boja, jalur yang melalui Ngaliyan dan Mijen itu relatif lebih lebar. Apalagi Pemkot Semarang juga telah melakukan pelebaran, termasuk di tanjakan dekat kampus IAIN Walisongo dan depan Kantor Kecamatan Ngaliyan.

Pemandangan dari Jrakah ke Ngaliyan, umumnya didominasi oleh rumah-rumah dan pertokoan. Namun setelah melalui kawasan BSB, pemandangan pun mulai berganti dengan perkebunan karet yang cukup sejuk.

Jika perjalanan lancar, maka kurang dari satu jam sudah akan sampai ke pertigaan Gonoharjo. Dari tempat itu, pengunjung yang naik angkutan umum bisa menggunakan jasa para tukang ojek.

***

Kampoeng Djowo Sekatul, memang sebuah lokasi wisata agro yang menarik untuk dikunjungi. Luasnya lebih kurang 10 hektare, di bukit Medini nan sejuk dan nyaman sebagai tempat beristirahat. Tak keliru jika rombongan Fam Trip AWAI bersama Dinas Pariwisata Provinsi Jateng malam itu menginap di Kampoeng Djowo Sekatul.

Saat menebar pandangan, terlihat payung tenda telah mengembang di berbagai tempat. Di bawahnya terdapat meja dan kursi lipat dari kayu yang cukup nyaman untuk diduduki. Sambil menikmati segelas kopi hangat, dari tempat tersebut terlihat cahaya dari lentera yang tersebar di berbagai titik. Cahayanya yang kadang redup, membuat tempat itu bagaikan sebuah negeri kunang-kunang.

Sayang, perut nampaknya tak bisa diajak berkompromi. Setelah menempuh perjalanan menuju ke Kampoeng Djowo, cacing-cacing di dalam perut nampaknya mulai berunjuk rasa. Kebetulan saat itu panitia mulai mengajak peserta ke sebuah pendopo besar yang disebut Dalem Joyokusumo, untuk makan malam.

Beberapa meja dan bangku panjang ditata mengelilingi ruang pertemuan. Makanan tradisional seperti pecel, trancam, peyek udang, dan ikan bakar tersaji di salah satu meja.

Sambil menikmati hidangan, para peserta bisa menyaksikan kecantikan pendopo joglo berasitektur Jawa kuno. Pada bagian tengah ruangan, sebuah lampu hias dengan kap berbentuk setengah lingkaran tergantung di wuwungan menggunakan tiga buah rantai. Walau tak terlalu terang, namun cahayanya mampu membuat ukiran pada kayu-kayu penyangga atapnya terlihat mempesona.

Bukan hanya pendopo yang menggunakan bangunan berarsitektur joglo. Rumah untuk menginap para peserta yang terletak tak jauh dari tempat tersebut juga dibangun dengan bentuk serupa.

Pada bagian dalam bangunan terdapat beberapa ruang kecil yang diisi tempat tidur dan meja kecil. Sementara pintu-pintunya ada yang terbuat dari anyaman bambu.

Di luar ruang – masih di dalam joglo – terdapat tempat tidur berukuran besar berderet-deret. Tak ada kasur busa atau spring bed seperti di hotel berbintang. Di atas dipan-dipan itu hanya tersedia kasur kapuk dan selimutnya pun hanya dilipat biasa.

Dalam ruangan, juga terlihat beberapa buah penyekat berupa gebyok. Namun kayu berukir itu, tidak menjadi pemisah yang tegas. Masih ada sela-sela yang bisa digunakan peserta lain melihat rekannya tertidur pulas.

***

Malam pun terlewatkan. Kala cahaya sang mentari mulai menerangi bukit Medini, keindahan Kampoeng Djowo Sekatul pun kian terlihat. Di salah satu bagian tempat, terlihat sebuah andong atau dokar yang menjadi bagian sebuah taman. Di sekeliling kendaraan tradisional itu, terdapat tanaman hias dengan daun dan bunga warna-warni.

Sebuah saluran kecil dengan air yang sangat jernih, terlihat tak berhenti mengalir di dekat taman. Sementara suara gemericik air yang ditimbulkannya, makin memperkuat suasana asri alam pegunungan.

Di bagian belakang ruang pertemuan, terlihat pula hamparan sawah dengan model terasering. Sebagian sudah menghijau, namun sebagian lagi masih berupa lempung yang belum selesai diolah.

Pada hamparan tanah pertanian, terlihat banyak bendera putih melambai tertiup angin. Bukan sebagai tanda kekalahan dalam pertempuran, melainkan untuk mengusir burung-burung yang sering merusak tanaman.

Keindahan lokasi menjadi lebih lengkap dengan adanya kolam pancing, restoran lesehan, perkebunan panili, strawberry, area budi daya tanaman obat, kebun buah-buahan, tanaman hias berikut bunga warna-warni, dan kandang ternak. Setelah lelah berjalan-jalan, pengunjung bisa memancing dan memanggang ikan hasil tangkapan.

Semua memberikan kesan, pengelola Kampoeng Djowo Sekatul benar-benar ingin menghadirkan suasana perkampungan Jawa tempo doeloe, sebelum meneer dari Belanda menjajah Indonesia.

Maka tak salah jika kawasan ini juga cocok digunakan untuk event-event bernuansa tradisional, seperti selamatan, ruwatan, dan pernikahan.

Walau demikian, kegiatan lain seperti seminar, rapat dinas, diklat, dan beragam kegiatan lapangan pun bisa diselenggarakan di lokasi wisata ini. Apalagi, pengelola juga menyediakan lahan untuk outbound dan camping ground. Dengan tersedianya berbagai fasilitas tersebut, Kampoeng Djowo Sekatul bukan hanya sebuah lokasi wisata agro. Melainkan juga bisa menjadi tempat untuk mencari kedamaian, merenung, dan memunculkan ide-ide segar.

(Purwoko Adi Seno/13)

Sumber: suaramerdeka.com

Komentar
  1. shovia mengatakan:

    mbuh….

  2. eko magelang mengatakan:

    kapan-kapan akan aku singgahi wisata ini, sungguh memikat hati cerita wisata kampong djawa ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s