Kampung Naga, Teguh pada Adat

Posted: 29 Maret 2008 in Jalan-jalan

jalan7.jpgSUATU hari seorang teman mengajak saya mengunjungi sebuah dusun di daerah Tasikmalaya Jawa Barat. Teman saya tadi dengan antusias menceritakan keunikan sebuah dusun atau kampung yang menurutnya sampai sekarang masih memegang teguh tradisi nenek moyang. Tempat yang dimaksud bernama Kampung Naga berada di Desa Neglasari, Kecamatan Selawu, 30 kilometer arah barat kota Tasikmalaya.

erasa penasaran, maka dengan beberapa orang kami mengunjungi dusun itu . Wilayahnya tidak terlalu luas, hanya sekitar 1,5 hektar, berpenduduk 306 orang, dengan 108 rumah. Selain rumah, terdapat pula masjid, lei atau lumbung padi serta ruang pertemuan disebut balai patemon. Masih ada satu bangunan dianggap keramat, terletak di Bumi Ageng di dataran lebih tinggi. Tidak setiap orang dan setiap saat boleh masuk ke bagunan tersebut. Hanya orang-orang dan waktu tertentu tempat itu boleh dimasuki yaitu ketika warga mengadakan upacara adat.

Memasuki Kampung Naga, sepintas tidak banyak dijumpai keunikan. Kehidupan warganya juga tidak berbeda dengan warga dusun lainnya. Sehari-harinya selain bercocok tanam, beternak ayam atau kambing serta ikan, ada juga yang menjadi pedagang di kota.

Menuju ke perkampungan, dari jalan besar Tasikmalaya-Garut hanya berjarak tidak lebih dari satu kilometer. Bagi pengendara mobil, tidak bisa langsung mencapai dusun, namun kendaraan harus di parkir di pinggir jalan. Area parkir disediakan cukup luas dengan dikelilingi sejumlah kios kerajinan maupun makanan dan minuman.

Pengunjung harus menuruni anak tangga untuk bisa mencapai tujuan. Konon jumlah tangga berjumlah 300 trap dibuat berkelok. Sebagian berada di pinggir Sungai Ciwulan, satu dari dua sungai terbesar di Tasikmalaya. Sambil menuruni anak tangga, mata disuguhi pemandangan alam yang menyejukkan. Hamparan sawah di sisi kanan serta gemericiknya air sungai Ciwulan dihiasai bebatuan bulat hitam.

Ketika sampai di tangga paling bawah dan akan masuk ke perkampungan, terlihat kolam ikan yang di atasnya terdapat kandang Ayam atau kambing.

Kesan pertama, rumah dan halaman mereka terlihat sangat bersih. “Membersihkan rumah dan halaman menjadi kegiatan sehari-hari warga kampung,” ujar wakil kuncen (pemangku adat) Hen Hen.

Kesan tradisional memang terlihat dari bentuk dan konstruksi bangunan. Semua rumah berdinding gedhek maupun bethek bambu, harus menghadap ke arah selatan atau utara. Atap menggunakan rumbia dilapisi ijuk. “Ini adat yang harus dipatuhi warga. Aturan itu dimaksudkan agar penggunaan lahan lebih tertata. Kalau menghadap semau sendiri akan terasa sempit,” katanya.

Turun Temurun

Bicara soal aturan yang harus ditaati, tidak hanya soal arah rumah. Beberapa pamali atau larangan harus dipatuhi mereka. Seperti perlakuan terhadap hutan yang berada di sebelah barat dan timur kampung tersebut. Konon tidak ada seorang warga yang berani masuk. Bahkan aparat pemerintah pun juga dilarang masuk. Ada apa di dalam hutan, Hen-Hen hanya menjawab ” ya itu pamali dan harus ditaati”.

Begitu pula perlakuan warga pada makam “Sembah Dalem Singaparana”, seorang yang dianggap sebagai cikal bakal kampung itu.

Tidak seorang pun warga Kampung Naga menyebut nama Singaparna untuk nama kecamatan. Mereka akan mengatakan Galunggung. Alasannya nama Singaparna mendekati nama Sembah Dalem Singaparana, leluhur mereka,” tulis Ahman Sya dalam sebuah buku.

Ahman juga menyebutkan sejumlah pamali bagi warga setempat. Antara lain tidak boleh mempunyai perabot rumah tangga seperti meja kursi. Tamu yang datang cukup diterima di serambi dengan beralas tikar. Alasannya agar tidak tampak kemewahan di antara warga, yang bisa berakibat merusak kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat juga dilarang memakai baju kurung dalam bentuk apapun. Demikian juga tidak boleh memakai sepatu atau sandal. Rambut panjang bagi kaum laki-laki juga menjadi larangan.

Hen Hen juga menyebutkan ada hari-hari tertentu yaitu Selasa, Rabu dan Sabtu, warga tidak boleh bicara atau menceritakan soal silsilah keluarga. Sedang pada bulan-bulan tertentu tidak boleh melakukan ziarah maupun memperbaiki rumah.

Cukup menarik dan unik memang. Perkampungan itu juga menolak adanya listrik. Aneh tapi nyata, di zaman maju dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, listrik ditolak keberadaannya. Namun bagi warga mempunyai alasan kuat untuk menolak.

Seperti dituturkan Hen Hen, mereka khawatir terjadi kebakaran, karena rumah penduduk hampir semuanya dari kayu dan bambu serta beratap ijuk. Pemangku adat memandang listrik akan menimbulkan kesenjangan sosial di antara warga. “Karena ada listrik, bisa jadi warga saling berlomba membeli peralatan elektronik. Kalau sampai terjadi, akan muncul persaingan, pada akhirnya menimbulkan ketegangan di antara warga,” tambah wakil pemangku adat itu.

Kehadiran televisi dan radio juga sangat ditabukan. Menurut mereka, media elektronik akan sangat memengaruhi anak-anak. Bahkan bisa jadi akan melemahkan adat, karena pengaruh dari media tersebut. “Memang ada televisi. Namun itu cukup yang hitam putih dan menggunakan aki,” ujar laki-laki yang sempat mengenyam pendidikan Sekolah Pertanian Memengah Atas(SPMA) itu.

Penolakan yang sama juga disampaikan, soal kehadiran kebudayaan atau jenis kesenian yang masuk ke kampung itu. Mereka melarang kesenian modern masuk, namun memberi kesempatan warganya untuk belajar di luar area perkampungan. Mereka tidak ingin adat yang berlaku selama ini menjadi luntur dan punah.

Pendidikan Dasar

Soal pendidikan, saat ini yang paling tinggi hanya mengenyam sekolah dasar. Memang ada beberapa sampai sekolah menengah dan perguruan tinggi. Tetapi mereka kemudian meninggalkan kampung halaman untuk merantau. Bagi keturunan yang tinggal di luar disebut penduduk, Sanaga.

Mengapa enggan bersekolah tinggi, mereka berpedoman pendidikan bisa dicapai dengan luang, galuang dan uang. Luang maksudnya bisa belajar sendiri, galuang belajar dari membaca atau bertanya kepada orang lain, sedang dengan uang bisa belajar di sekolah pendidikan formal.

“Kebanyakan yang bersekolah tinggi bertempat tinggal di sekitar Kampung Naga, seperti di wilayah Kecamatan Cigaluntung atau Salawu. Ada juga yang berada di kota lainnya. Namun setiap ada upacara adat mereka akan bersama-sama datang .”

Kebersamaan itu bisa dilihat ketika mereka melaksanakan semacam upacara bersih desa dengan mengganti pagar keliling kampung atau membersihkan makam leluhur. Menurut laki-laki yang murah senyum itu, pagar keliling terbuat dari bambu bisa selesai dalam sehari.

“Saling membantu. Ada yang menyediakan bambu, membelah dan memasangnya. Mereka sepertinya sudah tahu tugas masing-masing. Dan hasilnya pagar keliling kampung selesai sehari, selanjutnya mereka kembali ke tempat tinggalnya di luar Kampung Naga,” tuturnya.

Memang dalam kehidupan sehari-hari, warga kampung adat itu sama dengan penduduk desa lainnya. Meskipun kuat dengan adat dan agamanya, mereka tetap menjunjung penyelenggaraan pemerintahan. Semua bidang yang menyangkut pemerintahan mereka patuhi, seperti pembuatan KTP, PBB maupun ketentuan lainnya. Selain itu mereka juga tetap patuh dan taat terhadap adat yang berlaku.

Kedua-duanya sama-sama dipatuhi. Namun dalam kehidupan sehari-hari yang cukup mencolok dilaksankaan adalah kepatuhannya dalam adat. Semua larangan atau aturan adat, meskipun bagi orang luar tampak sederhana, tetap dipatuhi warga. “Kata-kata pamali sangat dipatuhi warga, meskipun untuk hal yang bagi orang luar kampung sini, dianggap sederhana atau sepele.”

Dalam satu tahun, pemangku adat mengadakan enam kali upacara, setiap bulan Muharam, Maulud, Jumadilakhir, Ruwah, Syawal dan Dulkaidah. Masing-masing upacara itu mempunyai makna serta kegiatan sendiri-sendiri. Kelembagaan adat dibagi tiga yaitu kuncen (pemangku adat) yang menjalankan upacara adat, punduh mengkoordinasi kegiatan kemasyarakat serta lebai yang mengurus jenazah.

Di kampung itu juga dikenal upacara tedhak siten bagi bayi yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah. Pada upacara itu diikuti dengan penanaman pohon kelapa. Maksudnya akan diketahui usia anak itu sama dengan pertumbuhan pohon yang ditanam.

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, selain bertani atau beternak ayam dan kambing serta ikan, warga juga membuat kerajinan tangah dari bambu. Hasil kerajinan itu dijual dengan dipajang di depan rumahnya. Seperti kere, seruling, bermacam hiasan rumah serta kerudung lampu. Setiap rumah penduduk model panggung dan dindingnya tampak dicat putih. Ketika masuk ke rumah, tidak dijumpai meja atau kursi demikian juga dengan mebelair lainnya.

Itulah kehidupan masyarakat Kampung Naga yang masih sangat kuat menjunjung dan mentaati adat yang diwariskan nenek moyangnya. Kekuatan pamali telah membuat masyarakat setempat hidup sederhana namun berkecukupan. Keteguhan adat serta ketaatanya dalam memeluk agama, telah membuat perilaku dan perbuatan warga tidak seperti nama kampungnya, Naga.

(Sri Wahjoedi/13)

Sumber: suaramerdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s