Keharuman Teh Kemuning

Posted: 26 Maret 2008 in Jalan-jalan

jalan6.jpgKESEJUKAN udara di Segaragunung menyapa begitu saya memasuki gerbang Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Kecamatan yang berada di lereng Gunung Lawu bagian utara itu memang berhawa segar. Melintas beberapa kilometer dari Gerbang Selamat Datang, sejauh mata memandang tersaji hamparan hijau kebun teh. Bentuknya sangat mirip piramida. Sebuah pemandangan yang begitu memanjakan indera penglihatan.

Andaikan tak ada pemandangan dan hawa sejuk, adakah yang istimewa di situ? Mungkin tak ada. Kenyataannya, kedua pesona magis yang tercurah dari alam di situ telah mampu mengundang wisatawan untuk datang dan selalu datang kembali.

Hamparan hijau perkebunan teh nan subur itu bernama Kemuning. Letaknya berada di antara kawasan wisata Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di situ, kita bisa menikmati pesiar wisata dalam bentuk tea walk atau menjelajahi perkebunan teh. Puluhan perempuan bercaping dengan tenggok di punggung memasuki perkebunan di pagi buta merupakan pemandangan yang eksotis. Lihat pula bagaimana para pemetik daun teh itu bekerja dengan penuh kesabaran dan kecermatan. Ya, ya cermati bagaimana tangan-tangan itu lincah “menari-nari” di antara dedaunan teh ketika terik matahari mulai membakar tubuh, tenggok mereka telah penuh. Paling tidak sekitar 40 kg daun teh telah dikumpulkan setiap pekerja dan siap disetor ke pabrik.

Lelah berpetualang di perkebunan, pesiar masih bisa dilanjutkan dengan mengunjungi emplasemen PT Rumpun Sari Kemuning (RSK), pabrik teh yang berada tak jauh dari perkebunan seluas 438 hektare itu. Yakinlah, harum daun teh yang baru dipetik dan yang lagi diolah bakal kian memanjakan indera penciuman kita.

Di tempat itu mesin-mesin tua yang tak lekang dimakan zaman masih setia menggiling pucuk-pucuk dedaunan hingga kering. Beberapa pekerja sibuk memasukkan daun teh yang telah diangin-anginkan ke dalam pengolahan yang dikerjakan dalam beberapa mesin. Suasana perkebunan dan emplasemen pabrik yang merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda itu serasa melayangkan angan kita ke masa lalu.

Tempat itu memang asyik buat pesiaran. Tapi banyakkah pengunjung yang datang ke situ?

“Sebenarnya sudah ada pengunjung dari luar Karanganyar yang berwisata tea walk. Sayang, belum begitu banyak jumlahnya,” papar Kepala Personalia PT RSK, Agus Setiawan.

Kata dia, yang datang kebanyakan rombongan keluarga dalam jumlah yang tak banyak. Mereka juga datang pada hari-hari tertentu saja, khususnya akhir pekan.

Agus bercerita banyak mengenai perkebunan tempatnya bekerja. Katanya, dari luas perkebunan seluruhnya, lahan yang aktif berproduksi hanya 397 hektare. Itu menghasilkan 12 hingga 15 ton daun teh basah.

“Kami menjual daun teh ini ke beberapa pabrik teh yang sudah cukup populer di masyarakat. Paling tidak, itu memberi bukti teh dari perkebunan kami punya kualitas bagus,” tandasnya.

***

Di perkebunan teh Kemuning, dapat pula kita jumpai bukit setinggi 1.350 meter sebagai landasan take off olah raga dirgantara Paralayang yang dibuka untuk umum pada setiap hari Sabtu dan Minggu. Selain dapat menikmati terbang tandem yang dipandu oleh instruktur nasional, kita juga dapat menikmati tea corner di kampung atlet. Teh hangat yang disajikan dalam beberapa poci jadi pelengkap pesiaran kita. Apalagi, aroma teh seduhannya sangat merangsang selera.

Rencananya kawasan wisata Kebun Teh Kemuning juga bakal dilengkapi gardu pandang. Dengan begitu, wisatawan dapat melihat hamparan teh. Pemkab Karanganyar juga akan melengkapi Desa Kemuning dengan homestay bagi pengunjung yang ingin menginap. Ini bukti, Kemuning tak semata jadi produsen daun teh, tapi juga sebuah lokawisata yang mengasyikkan dan punya fasilitas yang signifikan.

Untuk menuju tempat tersebut, kita bisa memakai angkutan umum dengan rute Karangpandan, Ngargoyoso, dan Jenawi. Kalau berkendaraan pribadi, kita juga bakal lempang-lempang saja melajukan kemudi. Pasalnya, Pemkab Karanganyar telah memperbaiki jalan raya sepanjang enam kilometer yang menghubungkan Candi Sukuh dan Candi Cetho melalui Kemuning.

Sebelum pulang dan ingin membawa buah tangan, kita tak usah berpikir sekian kali. Mandor piket yang menjaga kawasan tersebut bakal sangat aktif menawari pengunjung sesuatu yang bisa jadi oleh-oleh. Apa? Ya, tentu saja teh. Tapi teh oleh-oleh itu bukan teh kemasan melainkan teh curah. Maklum saja, PT RSK hanya menghasilkan teh setengah jadi yang bakal disetor ke sejumlah pabrik teh besar.

Berakhirkah perwisataan kita? Tunggu dulu. Kita bis amelanjutkan perjalanan menuju air terjun di Dusun Jumog, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso. Untuk mencapai objek wisata itu, kita bisa naik jurusan Solo ñ Karangpandan dan diteruskan dengan angkutan lokal.

Boleh dibilang, popularitas air terjun di Ngargoyoso itu kalah ketimbang Grojokan Sewu atau Balekambang. Tapi, untuk mencapai lokasinya tak sesulit kalau kita menuju kedua tempat tersebut. Kendati juga harus naik turun bukit, tapi kondisi rutenya tetap lebih ringan daripada ke Grojokan Sewu atau Balekambang. Hanya sekitar setengah jam berjalan kaki santai, kita bakal sampai.

Air terjun Ngargoyoso memiliki ketinggian sekitar 40 meter dan terletak di sebelah selatan Candi Sukuh. Air terjun itu berasal dari mata air pegunungan bernama Tuk Jublek yang berada di dekat candi Hindu itu. Sebutan lainnya, Grojokan Jumog yang memiliki keunikan berupa tetapnya debit air di situ baik di musim hujan maupun kemarau.

Menurut Teguh Mulyanto, seorang pengelola, tetapnya debit air disebabkan air yang tercurah dari ketinggian itu keluar dari mata air pegunungan dan bukan sungai. Namun ada kepercayaan warga seputar keberadaan tuk tersebut. Sumber air itu konon harus diberi sesaji dan proses ritual yang disebut Dawuhan. Acara itu digelar setahun sekali pada hari Sabtu Kliwon. Jika sampai terlupa, konon sumber air tak akan mengeluarkan air. Dengan begitu, jangan harap air bakal tercurah dari air terjun tersebut.

“Sesaji biasanya disiapkan secara bergiliran oleh warga tiga dusun yang mengelilingi sumber tersebut. Setahun sekali pada waktu yang ditentukan tokoh desa, setiap keluarga di salah satu dusun menyiapkan ingkung ayam untuk dibuat sesaji. Ayam yang dimasak utuh tersebut kemudian dikumpulkan di pelataran dekat sumber air dan didoakan bersama-sama dipimpin sesepuh desa bernama Mbah Pawiro Kino,” papar Teguh.

Setelah itu, ayam dibawa pulang kembali oleh si empunya. Namun kepala dan ceker-nya harus ditinggal. Kepercayaan itu sudah jadi tradisi turun-temurun.

Bagaimana kalau tidak? “Pernah suatu ketika warga mencoba melupakan tradisi itu. Hasilnya sumber air itu asat (kering-Red).”

Jika kita lelah menaiki pebukitan, ada warung-warung yang menawarkan berbagai penganan di sepanjang jalan menuju air terjun. Salah satu yang khas yakni satai kelinci. Makanan yang disajikan dengan lontong dan sambal kacang itu ditawarkan Rp 6.000 per porsinya. Nyamleng betul dinikmati bersama segelas jahe hangat untuk melawan dingin.

Yang pasti, air terjun di Ngargoyoso itu jadi alternatif tujuan wisata. Sayang, objek wisata yang pernah diprediksi bakal menyaingi popularitas Grojokan Sewu itu terlihat kumuh. Banyak warung tenda tanpa penghuni yang teronggok begitu saja. Ini jadi pekerjaan rumah bagi pengelola kalau memang berkomitmen menjadikan kawasan itu sebagai objek wisata alternatif.

suaramedeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s