Jejak Bajak Laut di Pulau Panggang

Posted: 26 Maret 2008 in Jalan-jalan

jalan5.jpgPulau Panggang merupakan salah satu dari ratusan pulau di Kepulauan Seribu. Untuk ke sana, kita bisa memakai kapal penyeberangan Muara Angke-Pulau Pramuka. Ojek. Itulah sebutan warga setempat untuk kapal bermesin truk itu. Agar tidak teringgal, pagi-pagi buta kita harus sampai di Pelabuhan TPI Muara Angke. Tak jarang, banyak penumpang yang melewatkan malam di kapal yang baru berangkat keesokan harinya.

Tak lama setelah angkat sauh, mata kita sudah bersitatap dengan gugusan pulau kecil nan menawan. Salah satunya Pulau Rambut yang kaya dengan mangrove dan satwa penghuninya. Pemandangan ang memikat juga terlihat saat kapal mendekati Pulau Untung Jawa.

Setelah lima jam perjalanan, sampailah kapal di Dermaga Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang. Sebelumnya, pulau itu bernama Pulau Elang. Ketika anak-anak Pramuka datang dan melakukan banyak penataan wilayah, nama Pramuka diberikan sebagai balas jasa.

Di atas pulau yang bersih dan tertata rapi tersebut berdiri kantor-kantor Pemerintahan Kabupaten Administrasi Pulau Seribu, asrama atlet dayung, dan pemukiman warga yang belum terlalu padat.

Tempat menarik lain yang bisa kita kunjungi adalah penangkaran penyu milik Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pusat penyelamatan penyu yang menghiasi salah satu sudut pulau itu menyajikan upaya manusia memperbesar persentase hidup penyu yang kini mulai langka. Di sana bisa kita lihat banyak tukik (anak penyu) hasil penangkaran maupun indukan yang akan dikawinkan. Bila tiba saatnya, sebagian besar tukik itu akan dikembalikan ke habitatnya.

Di dermaga utama, banyak anak berenangan di pantai. Dari tempat itu pula, kita bisa melihat Pulau Panggang, pulau kecil yang berpemukiman padat. Selat selebar 300 meter mengantarai Pulau Pramuka dengan Pulau Panggang dengan ojek perahu sebagai sarana transportasi.

***

PULAU Panggang benar-benar padat. Bayangkan, berluas sekitar 5 hektare, pulau itu dihuni lebih dari 500 KK. Tak pelak, rumah-rumah terlihat saling berimpitan. Lebar jalan kampung pun tak lebih dari semeter. Hanya satu jam jalan santai kita sudah bisa mengitari pulau tersebut.

Ada cerita panjang mengapa pulau itu begitu padat. Ketika belum begitu banyak penghuninya, segerombolan bajak laut mengacau di wilayah itu. Beberapa warga pun bangkit dan melawan. Para bajak laut dikalahkan dan ditangkap. Marah atas kebengisan bajak laut, warga mengikat dan membakar mereka di gugusan karang dekat pulau. Karena itulah, pulau ini memiliki nama panggang yang berasal dari kata “memanggang” atau membakar. Hingga kini, masih bisa kita jumpai semacam penanda tempat membakar bajak laut. Warga setempat menyebutnya sebagai karang pemanggangan.

Mungkin setelah itu, warga menganggap pulau inilah yang paling aman. Terlebih lagi, penduduk yang hidup bertahun-tahun di sana mengaku tak pernah mengalami ancaman baik dari bajak laut maupun dari alam.

Dalam perkembangannya, meski Kelurahan Pulau Panggang mencakup beberapa pulau yang bisa dihuni, tetapi banyak orang lebih suka tinggal di pulau itu. Bahkan ada satu pulau terdekat dibiarkan kosong dan dijadikan pemakaman.

Selain kepadatan, persoalan serius di pulau itu adalah minimnya air layak diminum. Mata air dan sumur warga berasa payau. Meski begitu, penduduk tetap memanfaatkannya. Maka jangan heran, air hujan begitu berarti di sana. Untuk memenuhi kebutuhan warga, pemerintah menyediakan fasilitas RO untuk mengubah air payau menjadi air tawar. Kendati hasilnya belum maksimal, banyak warga yang telah memanfaatkannya.

Satu hal lainnya yang bisa kita lihat di Pulau Panggang adalah perjuangan para nelayan dalam menghadapi kerasnya alam. Tapi umumnya mereka hidup dalam kedamaian. Dan di waktu senja, kita bisa menyaksikan indahnya sunset sembari memancing cumi-cumi di dermaga pulau. Ngalir, istilah yang biasa digunakan warga setempat.

Aktivitas para penyelam bubu juga menarik kita saksikan. Jangan ragukan lagi kemampuan menyelam mereka. Biasanya mereka berangkat ke tempat penanaman bubu dengan sebuah perahu yang dilengkapi dengan alat-alat pancing dan selam. Di titik penanaman yang telah ditandai, mereka terjun untuk mengambil bubu yang telah ditanam beberapa hari sebelumnya.

Jangan bayangkan mereka menyelam dengan perlengkapan tabung selam. Lihat misalnya Bang Udin, salah seorang penanam bubu. Dia hanya memakai kompresor yang laiknya dipakai para penambal ban motor atau mobil dengan tambahan peralatan sederhana. Meski begitu, lelaki itu bisa berada di kedalaman 20 meter berjam-jam lamanya. Untuk mempermudah pengambilan bubu, Bang Udin dibantu seorang asisten yang berada di atas kapal. Dia akan menarik tali yang telah diikat Bang Udin di bubu. Biasanya, setiap kali bubu diangkat, banyak ikan karang terjebak di dalamnya.

Penyelaman dengan alat yang tidak standar memang sangat berbahaya. Namun aktivitas itu tetap dijalani hampir semua penyelam bubu. Tuntutan hidup, itulah alasannya. Meski demikian, jika melihat hasil tangkapannya berupa ikan-ikan karang yang bernilai ratusan ribu rupiah per ekor, kita jadi paham mengapa cara-cara berisiko itu mereka tempuh. Sayangnya, begitu dipotong ongkos produksi, pendapatan para penyelam tak bisa disebut banyak.

***

SELAIN aktivitas memancing dan mengangkat bubu, masih ada beberapa hal menarik yang bisa kita saksikan di Pulau Panggang. Salah satunya, pengepul ikan hias dan terumbu karang. Beragam ikan menarik bisa kita saksikan di sana. Ada juga ikan hiu yang akan dijual ke luar.

Tempat penampungan ikan hias berada di pantai timur Pulau Panggang dengan sebuah dermaga kecil tersendiri. Dengan desain begitu, dermaga tersebut bisa menampung terumbu karang hidup yang akan dijual. Kita bisa melihat aktivitas para pekerja yang menyelam dan menata terumbu itu di rak-rak penampungan.

Jika masuk ke dalam bangunan penampungan, kita bisa melihat bak-bak besar yang berisi ribuan ikan hias, baik kecil maupun besar. Di sana, para pekerja terlihat menyiapkan plastik-plastik untuk mengepak ikan hias. Plastik-plastik itu mereka isi dengan air laut dan oksigen. Dengan demikian, ikan-ikan hias yang akan dikirim bisa bertahan hidup dalam waktu yang cukup lama.

Di seberang Pulau Panggang, tepatnya di dekat karang pemanggangan juga terdapat sebuah bangunan karamba besar untuk pembenihan dan pembesaran ikan kerapu yang tak kalah menarik.

Belumlah lengkap suatu perjalanan ke sebuah tempat seeksotis Pulau Panggang tanpa menyaksikan dari dekat kehidupan sehari-hari nelayan setempat. Kalau kita berkeliling di antero pulau, kita bisa melihat bagaimana para nelayan itu memperjuangkan hidup mereka. Pada setiap bagian pulau, kita bisa melihat orang-orang yang memperbaiki perahu, membuat perahu.

Menarik pula menyaksikan aktivitas penduduk di dermaga pulau pada pagi dan siang hari. Saat itu, banyak pelajar dan pegawai yang hendak ke Pulau Pramuka untuk menjalani aktivitas masing-masing.

Keeratan hubungan antarwarga yang tinggal di pulau kecil itu memberi pelajaran yang sangat berarti. Kita akan sadar bahwa individu satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Penduduk Pulau Panggang memberi pelajaran itu. Mereka berasal dari tempat yang berbeda-beda. Tentu saja, berbeda-beda pula tradisi dan latar belakang kulturalnya. Tapi begitu tinggal di pulau tersebut, mereka berbaur.

suaramerdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s