Awas Copet di Eiffel!

Posted: 24 Maret 2008 in Jalan-jalan

VOIR Paris et mourir (Lihat Paris, lalu matilah). Itu ungkapan yang bermakna betapa berartinya ibu kota Prancis tersebut. Paris itu ibarat puncak keindahan, sehingga belum puas rasanya mati sebelum melihat kota itu.

jalan1.jpgYa, Paris itu ibarat impian yang jadi kenyataan.Keindahannya sebagai pusat mode dunia, menara Eiffel, dan popularitas parfumnya adalah pesona yang selalu mengundang siapa pun untuk datang ke kota itu. Sebagai kota mode, penduduknya juga terkesan sangat menjaga citra dan penampilannya. Lihatlah, bagaimana hampir semua penduduk kota, laki-laki maupun perempuan,

tua dan muda, bahkan manula, tampil modis dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Mengunjungi kota itu adalah menikmati keindahan yang tak ada habis-habisnya. Maka, meskipun tujuan utama saya ke kota itu untuk mengunjungi Champs-Elysees, namun tentulah tak komplet bila tak mampir ke Eiffel, salah satu tempat tujuan wisata utama di negara tersebut.

Menara yang dibangun tahun 1889 oleh Gustave Eiffel yang juga ikut membangun Patung Liberty di New York. Menara tersebut sampai saat ini, atau 117 tahun setelah bangunan itu dibuat, masih terawat dengan baik, dan dikunjungi oleh 30.000 pengunjung setiap hari. Padahal, menilik sejarahnya, bangunan itu sebenarnya hanya dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Raya Dunia dan memperingati Revolusi Perancis.

Memasuki menara Eiffel -yang pada kakinya terdapat patung dada emas Gustave Eiffel setiap pengunjung harus rela antre untuk membeli tiket. Setelah mendapat tiket, barulah pengunjung bisa memasuki menara. Untuk itu pengunjung masih harus melewati pemeriksaan bawaan yang dijaga oleh petugas yang ramah, untuk selanjutnya melewati ruang di salah satu bagian kaki menara untuk menuju elevator. Yang menarik, meskipun Paris dikenal

sebagai kota yang tertib dan aman, di mana-mana toh terdapat juga tulisan “Hati-hati, banyak pencopet”. Tak mengherankan bila terlihat banyak wisatawan yang memeluk erat barang bawaannya saat berada di dalamruang menara.

Oya, elevator itu sendiri bergerak lambat dan deraknya sedikit kasar. Mula-mula elevator itu merambat miring mengikuti lekuk menara lalu lurus menerobos rangka yang sebenarnya adalah bagian tambahan dari menara tersebut.

Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk mempermudah pengunjung menjelajahi bagian demi bagian dari menara. Sebelum ada elevator, setiap pengunjung harus rela berlelah-lelah untuk mendaki 1.789 anak tangga.

Dari puncak menara, kita bisa menyaksikan keindahan Sungai Seine yang berkelok-kelok dengan kapal-kapal yang melintasinya. Sungai itu terlihat mengitari Eiffel separuh lingkaran, dan Taman Trocadero yang luas.

Di puncak Eiffel, ada sebuah kamar ukuran kecil yang tak lain adalah kamar kerja pribadi sang arsitek. Dari celah jendela terlihat, pada sebuah kamar terdapat tiga patung lilin. Yakni, patung Gustave Eiffel, Thomas

Alfa Edison yang sedang memamerkan fonograf, dan Claire Eiffel, adik sang arsitek. Selain kamar kerja, di situ juga terdapat toilet pengunjung.

Menikmati keindahan Eiffel, yang pantaslah disebut sebagai atap kota Paris, sangat pas bila dilakukan pada malam hari. Ratusan proyektor yang meneranginya dengan 20.000 bola lampu yang berkedip setengah jam sekali,

adalah pesona yang begitu menggoda. Ya, beruntung sekali, menara ini tak jadi dirobohkan seusai pameran dulu. Bayangkan saja, bagaimana akan menyesalnya

Gustave Eiffel bila tahu, bertahun-tahun kemudian, sampai ratusan tahun, hasil karyanya menjadi mahakarya yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia modern. Selain itu menara itu juga pernah menjadi gedung tertinggi di dunia selama sekitar 40 tahun

Eiffel adalah sebuah bangunan perkasa dengan ketinggian 300-an meter atau 1.050 kaki yang dibangun dari 15.000 keping metal. Meskipun memiliki tinggi yang begitu menjulang, struktur menara Eiffel yang terbuat dari balok-balok baja yang dipertautkan dengan sedikitnya 2,5 juta sekrup dan mur ini sangatlah ringan. Berat keseluruhannya hanya 7.300 ton, yang bertumpu pada empat pilar besar dengan dasar semen. Agar tak berkarat mengarung zaman, maka setiap tujuh tahun sekali, para atlet panjat tebing dikerahkan untuk mengecat setiap jengkal bajanya. Tak kurang dari 50 ton cat berwarnakecoklatan dihabiskan untuk pekerjaan besar tersebut.

Menara Eiffel sendiri memiliki tiga lantai. Yakni, lantai pertama dengan ketinggian 187 kaki, lantai kedua 377 kaki dan lantai ketiga pada ketinggian 899 kaki. Pada setiap lantai terdapat bar dan restoran, yang memungkinkan para wisatawan bisa beristirahat sembari memandang keindahan Kota Paris. Di bawah menara Eiffel itu, ada kawasan hijau yang diberi nama Champs de Mars. Sebelum dijadikan kawasan hijau yang indah dan asri dengan tanaman bunga di sana-sini dan kolam kecil (dibangun antara tahun 1908 dan 1928), dulunya tempat ini adalah tempat latihan militer. Namun tak lama kemudian diubah menjadi sebuah taman yang sangat asri sekali.

***

SELAIN menara Eiffel yang legendaris itu, Arc de Triomphe (Gerbang Kemenangan) adalah tujuan wisata lain yang sayang untuk dilewatkan. Bangunan itu disebut sebagai Gerbang Kemenangan karena bangunan itu memang diperuntukkan sebagai peringatan bagi tentara agung. Gerbang tersebut mulai dibuat oleh Chalgrin pada 1806 dan selesai pada 1836 di bawah Napoleon. Bangunannya memiliki gerbang barel tunggal dan sebenarnya melebihi ukuran Gerbang Konstantin di Roma. Bagian depan gerbang memiliki relief yang cukup indah. Relief yang paling dikenal berada di sebelah kanan. Relief itu enggambarkan pemberangkatan sukarelawan yang disebut Marseillaise pada 1792. Kemenangan utama Napoleon diperingati dalam relief lainnya pada bagian atas.

Di bawah gerbang, ada tugu tentara tak dikenal yang mulai dibangun pada 1920 dan api abadinya diberi upacara setiap petang. Sejarah mengenai monumen tersebut bisa ditilik dalam sebuah museum kecil di dalam gerbang. Di situ kita bisa membaca nama para jendral yang jumlahnya tidak kurang dari 558 orang. Beberapa di antaranya digarisbawahi karena mereka tewas di medan pertempuran.

Selain berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, menyusuri Sungai Seine yang terkenal itu -dengan menggunakan kapal khusus yang biasa disebut dengan Bateux Mouches-, adalah bagian lain dari perjalanan wisata di Paris yang mengasyikkan. Ya, sungai yang membelah kota ini memang begitu indah.

Bangunan tua dan bersejarah berada di pinggir sungai tersebut. Sebut misalnya Notre-Dame de Paris, sebuah gereja yang dibangun pada 1163, juga La Conciergerie (dibangun pada akhir Abad ke-13), dan Museum Orsay (Musee d’Orsay) yang dinilai sebagai museum terindah di Eropa, serta banyak lagi bangunan-bangunan tua lainnya yang tak kalah indah.

Tak hanya bisa melihat bangunan-bangunan tua itu, menyusuri sunga itu juga membuat kita bisa menikmati pemandangan jembatan-jembatan tua yang memiliki arsitektur begitu indah seperti Jembatan Pont Neuf yang dirancang Du Cerceay dan Des Illes. Itujembatan tertua di Kota Paris. Ada juga jembatan Pont Alexandre III yang menghubungkan Esplanade des Invalides dengan Champs-Elysees.(Seno Budiono-13)

***

Happening art di sudut kawasan Champs Elysees

USAI “berkembara” di Eiffel, saya sempatkan untuk bertandang ke Champs-Elysees. Dan, sungguh, itulah perjalanan saya yang paling mengesankan. Ups, bukan karena saya tukang belanja, maka saya sebut tempat ini sebagia tempat favorit saya.

Tapi, sebagai seorang pengusaha, tempat gaul paling top di Perancis yang juga sekaligus merupakan pusat bisnis dan perbelanjaan terlengkap dan terkomplet di dunia yang pernah saya lihat, Champs-Elysees tentulah tempat yang paling strategis buat saya. Ya, sekadar ?mengintip? peluang yang mungkin saya masuki.

Memang, Champs-Elysees (dibaca: shongzelize) yang secara harafiah bermakna Lapangan Elysium tidaklah lebih populer bila dibandingkan dengan menara Eiffel atau Paris itu sendiri. Tetapi bagi mereka yang hobi jalan-jalan (dan belanja), di situlah tempat kunjungan wajib saat ke Paris.

Champs-Elysees sendiri adalah sebuah avenue luas di Paris. Ia juga merupakan salah satu jalan yang paling terkenal di dunia. Arti harafiah Champs-Elysees yang menunjuk pada Lapangan Elysium dalam mitologi Yunani berarti sebagai kerajaan kematian.

Champs-Elysees merupakan juga pusat pertokoan terpanjang dan terkomplet, sekaligus juga salah satu yang termahal di dunia. Oya, meskipun begitu, jangan membayangkan jalan itu mirip Malioboro yang juga ngetop abis di Yogyakarta. Selain karena menempati area yang jauh lebih luas, tempat yang selalu dipadati turis-turis asing dari berbagai negara itu juga jauh lebih tertib dan bersih.

Bagaimana tidak tertib, Anda coba membayangkan jalan besar dua arah dengan masing-masing empat lajur itu selalu lancar dan tak pernah macet. Penyebabnya adalah karena masing-masing pengendara kendaraan bermotor dan juga pejalan kaki tahu akan hak dan kewajibannya masing-masing. Mereka tak saling serobot hingga mengganggu kelancaran berlalu lintas. Kalau toh ada sedikit gangguan seperti klakson mobil yang berebut bunyi.

Tempat itu juga bersih karena tak seorang pun membuang sampah sembarangan di situ. Satu lagi, seperti sudah ditulis di atas, sebagai kota mode, penduduk Paris selalu tampil modis dan cantik. Meskipun cuma jalan-jalan, mereka tetap berpakaian serasi, tidak ngawur, apalagi urakan.

Champs-Elysees yang selalu ramai baik di dalam maupun di emperannya itu, adalah tempat asyik untuk window shopping. Tak hanya orang Perancis saja yang datang, tetapi pelancong dari seluruh dunia. Memang tak semua yang datang bermaksud untuk belanja. Apalagi harga-harga di situ memang selangit. Tak mengherankan banyak pengunjung yang hanya datang untuk mengunjungi jejeran toko, juga butik-butik dari desainer-desainer terkenal di sana, hanya untuk sekadar menikmati keindahan yang dipajang. Satu-dua orang mungkin membeli tas atau gaun dari Versace atau desainer lain. Tapi lebih banyak yang hanya melihat-lihat saja.

***

DI jalan itu, ada juga butik khusus kacamata yang memajang semua merek kacamata, butik khusus arloji, gerai kosmetik yang khusus menyediakan lipstick dan parfum (yang bikin lapar belanja khususnya bagi kaum hawa), sampai showroom Mercedes Benz dan Ferrari.

Bagi yang demen barang elektronik, silahkan bercapai-capai dan bingung memilih, karena khusus untuk toko yang menyediakan CD dan DVD (saja), ada 6 lantai yang bisa dikunjungi. Ini mungkin toko terbesar di dunia yang pernah saya tahu. Bayangkan, masak untuk mencari kepingan CD dan DVD saja, kita tidak cukup mengunjungi hanya dalam waktu satu hari saja?

Selain toko-toko itu, Champs-Elysees juga dipenuhi kafe dan restoran yang semuanya serbaromantis. Makin malam, kafe-kafe itu makin ramai. Dan jangan kaget, bila duduk di kafe harganya bisa berlipat-lipat bila dibandingkan di tempat lain. Begitu pula dengan cara kita berbusana. Ya, di Paris, cara berbusana akan sangat mempengaruhi posisi kita. Kalau pakaian kita tidak layak, jangan harap dapat tempat duduk dan dilayani pelayan dengan baik.

Yah, kadang-kadang hal seperti itu terasa terlalu ribet. Tapi begitulah, kita terpaksa harus rela makan di kafe pinggir jalan saja bila busana kita ala kadarnya. Apalagi kalau yang di dalam kafe berpakaian turis, pasti dinomorduakan.

Walau begitu, nongkrong di kafe pinggir jalan juga dapat pesona lain: mengamati lalu lalang orang. Saya betah berjam-jam nongkrong di situ sambil

menikmati pemandangan indah, gadis-gadis blasteran Tunisia, Turki, dan Spanyol yang cantik-cantik dengan berambut cokelat dengan kulit yang terlalu putih tapi bersih.

Melihat Paris, memang melihat keindahan, kotanya, orangnya, pakaiannya, butiknya. Pokoknya, semua tak ada habisnya. Paris adalah keindahan.

suaramerdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s